If you were a princess

Ok. Here is the thing that I want to share since last few months. It’s just an illustration for what had happened to me starting 10 months ago. And I am currently still thinking about it.

If you were a very beautiful princess, and there were 3 good men approaching to marry you, which one would you choose?

The first is a decent man, who is apparently your childhood friend. Handsome, decent, supportive and gives you what he’s got as a good friend. However, he is slow learner, old fashioned and now, he’s not in his best shape (he’s ill).

The second man is unexpectedly very helpful, notorious, fast-growing, young-spirited and respect you the way you are. One more thing, he is a very good person to talk to. Yet, he lives far away and you’ll need much effort to see him.

The third is a mature man (not old, LoL), established, promising and very well-organized. He tells you how to live your life wisely and seemingly, you expect something from him.

Is it hard options to choose? tell me your opinion, please…

You know, I am married and there is no way this posting really refers to a man to choose. Well, honestly, they are about my work, heuheuheu… so, what do you think?

agaiiiin…. it feels so great to share here.

Advertisements

The two days quotes

1. Good thing takes time.
Jika kamu adalah orang yg sedang berjuang untuk hidup lebih baik, untuk pendidikan yg lebih tinggi, atau untuk keluarga lebih bahagia. Jangan putus harapan, terus berjuang krn sesuatu yg baik membutuhkan waktu dan proses. Tetap berdoa n berusaha.

2. Orang hebat tidak akan menunggu para haters menjadi lovers, tidak akan menunggu pemalas untuk terpacu dan tidak akan menunggu keledai menjadi kuda perang.

Go with the Flow

Akhirnya aku menyelesaikan kuliah S2 ku dan mendapatkan gelar Master of Humaniora akhir tahun 2015 lalu. Aku mulai bercerita dari titik ini karena petualangan menegangkan baru saja dimulai setelahnya.

Setelah aku lulus, satu hal yang muncul dikepalaku adalah “what next?” aku pun mulai membuat daftar:

  1. Mempertahankan NIDN supaya tidak masuk degradasi NUPN
  2. mencari tempat kerja baru yang lebih menjanjikan
  3. Mengurus Jabatan Fungsional Akademik

That simple!

NIDN beres dan akupun mulai melayangkan lamaran kesana kemari. Akhirnya Language Center Telkom University (Tel-U) meminangku untuk mengajar disana. Mengajar TOEFL untuk anak-anak yang skornya sudah diatas 450 dan targetnya adalah 500. Menyenangkan, karena mereka mudah memahami materi yang disampaikan. Misi kedua adalah mengajar 2 orang dosen Tel-U (suami istri) yang akan berangkat ke Inggris dengan beasiswa LPDP. Mereka sudah pandai berbahasa Inggris, dan mereka ingin aku mengajari tentang budaya dan bahasa. hummm…. kadang aku geli juga, “aku kan belom pernah ke Inggris..!!” tapiiii… ya, disitu challange nya. Okei, akupun mulai mencari bahan yang¬†applicable. Karena kemudian aku mengalami kesulitan ekonomi, aku pun kembali menerima tawaran-tawaran dari kampus ini.

Tidak lama berselang, seorang sahabat yang kini berada di Tempe, Arizona memberi kabar bahwa Pusat Bahasa ITB sedang membutuhkan tutor untuk English for Academic Purpose, dan menanyakan kesediaanku untuk mengajar disana. Wah, subject apa itu??? akan seperti apa mahasiswanya? Ooohh… but I just say “yes!” (sambil mikir).

Itulah awal poliandri ku. Maka hari-hari ku penuh dengan jadwal mengajar dan harus pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Semua juga harus dipersiapkan dengan seksama supaya tidak mencoreng harga diri dan profesionalitas. hehehehe…

Ternyata, tempat kerja pertamaku mulai complaint, bukan ATL yang berbicara tapi langsung orang sekelas Wadir yang berbicara. Dia menganggap aku sering telat. Fyuuuhh… aku akui, jika aku selesai pukul 13.00 di Tel-U dan langsung lari ke Pahlawan, paling tidak aku akan sampai disini jam 13.45. Well, what can I do? I will just take the consequences.¬†

Itulah sekelumit kesibukan yang aku hadapi akhir- akhir ini. Tampaknya aku akan mengurangi jadwalku. Beberapa hal yang harus aku garis bawahi adalah sebagai berikut: 1. Allah sudah membuat skenario tahapan hidup untuk semua umatnya. Aku bersyukur diberi kesempatan di Tel-U sebelum ITB. Karena jika langsung ke ITB, maka aku akan terkaget-kaget menghadapi mahasiswa disana.

2. Rezeki dari Allah itu selalu tepat sasaran. Ketika aku membutuhkan, jika aku istiqamah mencari, maka akan aku dapatkan. Tidak kurang, tidak lebih, tidak datang lebih awal, atau akhir. Just Right!

3. Sebagai perempuan yang juga seorang ibu, mencari rezeki itu TIDAK wajib, tapi, ketika kita ridha dan menganggap pengorbanan kita sebagai sedekah, kembali Allah akan mencukupkan rezeki kita dan pasti bermanfaat untuk semua.

4. Aku harus pandai membagi waktu, apalagi dalam konteks “poliandri,” jangan ada yang dirugikan, atau merasa dirugikan.

5. The most important of all, FAMILY IS EVERYTHING. Dalam kesibukan luar biasa seperti yang aku sebutkan diatas, aku selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengan anakku sebelum dan sepulang kerja, memeluknya setiap saat, dan mengambil cuti untuk mengajak dia jalan-jalan ke tempat yang dia sukai. Ah, sulit memang, tapi aku yakin dalam situasi seperti ini, apa yang aku lakukan adalah jalan terbaik.

Senang karena akhirnya aku bisa mencurahkan apa yang ada dalam pikiranku di blog ini.