Go with the Flow

Akhirnya aku menyelesaikan kuliah S2 ku dan mendapatkan gelar Master of Humaniora akhir tahun 2015 lalu. Aku mulai bercerita dari titik ini karena petualangan menegangkan baru saja dimulai setelahnya.

Setelah aku lulus, satu hal yang muncul dikepalaku adalah “what next?” aku pun mulai membuat daftar:

  1. Mempertahankan NIDN supaya tidak masuk degradasi NUPN
  2. mencari tempat kerja baru yang lebih menjanjikan
  3. Mengurus Jabatan Fungsional Akademik

That simple!

NIDN beres dan akupun mulai melayangkan lamaran kesana kemari. Akhirnya Language Center Telkom University (Tel-U) meminangku untuk mengajar disana. Mengajar TOEFL untuk anak-anak yang skornya sudah diatas 450 dan targetnya adalah 500. Menyenangkan, karena mereka mudah memahami materi yang disampaikan. Misi kedua adalah mengajar 2 orang dosen Tel-U (suami istri) yang akan berangkat ke Inggris dengan beasiswa LPDP. Mereka sudah pandai berbahasa Inggris, dan mereka ingin aku mengajari tentang budaya dan bahasa. hummm…. kadang aku geli juga, “aku kan belom pernah ke Inggris..!!” tapiiii… ya, disitu challange nya. Okei, akupun mulai mencari bahan yang applicable. Karena kemudian aku mengalami kesulitan ekonomi, aku pun kembali menerima tawaran-tawaran dari kampus ini.

Tidak lama berselang, seorang sahabat yang kini berada di Tempe, Arizona memberi kabar bahwa Pusat Bahasa ITB sedang membutuhkan tutor untuk English for Academic Purpose, dan menanyakan kesediaanku untuk mengajar disana. Wah, subject apa itu??? akan seperti apa mahasiswanya? Ooohh… but I just say “yes!” (sambil mikir).

Itulah awal poliandri ku. Maka hari-hari ku penuh dengan jadwal mengajar dan harus pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Semua juga harus dipersiapkan dengan seksama supaya tidak mencoreng harga diri dan profesionalitas. hehehehe…

Ternyata, tempat kerja pertamaku mulai complaint, bukan ATL yang berbicara tapi langsung orang sekelas Wadir yang berbicara. Dia menganggap aku sering telat. Fyuuuhh… aku akui, jika aku selesai pukul 13.00 di Tel-U dan langsung lari ke Pahlawan, paling tidak aku akan sampai disini jam 13.45. Well, what can I do? I will just take the consequences. 

Itulah sekelumit kesibukan yang aku hadapi akhir- akhir ini. Tampaknya aku akan mengurangi jadwalku. Beberapa hal yang harus aku garis bawahi adalah sebagai berikut: 1. Allah sudah membuat skenario tahapan hidup untuk semua umatnya. Aku bersyukur diberi kesempatan di Tel-U sebelum ITB. Karena jika langsung ke ITB, maka aku akan terkaget-kaget menghadapi mahasiswa disana.

2. Rezeki dari Allah itu selalu tepat sasaran. Ketika aku membutuhkan, jika aku istiqamah mencari, maka akan aku dapatkan. Tidak kurang, tidak lebih, tidak datang lebih awal, atau akhir. Just Right!

3. Sebagai perempuan yang juga seorang ibu, mencari rezeki itu TIDAK wajib, tapi, ketika kita ridha dan menganggap pengorbanan kita sebagai sedekah, kembali Allah akan mencukupkan rezeki kita dan pasti bermanfaat untuk semua.

4. Aku harus pandai membagi waktu, apalagi dalam konteks “poliandri,” jangan ada yang dirugikan, atau merasa dirugikan.

5. The most important of all, FAMILY IS EVERYTHING. Dalam kesibukan luar biasa seperti yang aku sebutkan diatas, aku selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengan anakku sebelum dan sepulang kerja, memeluknya setiap saat, dan mengambil cuti untuk mengajak dia jalan-jalan ke tempat yang dia sukai. Ah, sulit memang, tapi aku yakin dalam situasi seperti ini, apa yang aku lakukan adalah jalan terbaik.

Senang karena akhirnya aku bisa mencurahkan apa yang ada dalam pikiranku di blog ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s