Sinetron, oh sinetron…

Sunday, September 16, 2012.

Anak tetangga yang berusia 7 tahun baru saja bilang begini sambil marah-marah:
“ibu jahat banget sih, pandu mau cari ibu lain saja!”
Tanggapan saya, dia terlalu banyak menonton sinetron.

Sinetron memang sedang banyak ditayangkan di berbagai stasiun televisi. Sinetron adalah kependekan dari sinema elektronik, artinya, film berseri (atau tidak berseri) yang ditayangkan di televisi. Jika diperhatikan, tidak kurang dari 10 judul sinetron ditayangkan di berbagai televisi Indonesia setiap harinya. Sinetron berseri bisa mencapai ratusan episode, dan sinetron tidak berseri (atau yang lebih dikenal dengan ftv) bisa diulang hingga berkali-kali.
Mengapa sinetron bisa sangat menjamur?
Jika merujuk kepada hukum ekonomi, ada demand, ada supply. Maka, saya pikir memang banyak orang yang suka menonton sinetron, hingga ratingnya tinggi, dan pihak lain yang melihat keberhasilan itu berbondong-bondong mengikutinya dengan memproduksi sinetron-sinetron lain.
Pertanyaan berikutnya, mengapa banyak orang suka menonton sinetron?
Menurut saya, ada beberapa faktor penyebab orang menonton sinetron. Pertama, mengisi waktu luang. Suatu pagi, di sebuah rumah, ada seorang ibu yang baru selesai membereskan rumah. Dengan badan letih, beliau menghempaskan badannya diatas sofa dan mulai menyalakan televisi. Setelah mengganti-ganti channel, dia tidak menemukan acara menarik selain tayangan yang menampilkan kekonyolan tokoh perempuan kota yang sedang berkunjung ke desa. Sang ibu tersenyum sejenak, dan menaruh remote control tv. Satu jam kemudian, beliau baru tersadar bahwa beliau sedang memasak air. Besok harinya, beliau akan mencari channel yang sama untuk menonton sinetron yang sama. Kedua, tema sinetron sesuai dengan imajinasi anak remaja. Di sore hari, sering sauya temukan sinetron bertema kehidupan remaja SMA dan SMP.Tema cerita pada sinetron remaja ini berkisar pada persahabatan, persaingan, dan eksistensi. Hal-hal ini begitu dekat dengan kehidupan remaja sebenarnya (jika tidak diperbuas), maka banyaklah remaja yang menonton sinetron seperti ini. Ketiga, menemani keluarga menonton. Saya sempat berbincang dengan seorang kawan laki-laki tentang sinetron. Tidak disangka, dia mengetahui tokoh-tokoh dalam sebuah sinetron, dan dia juga alur ceritanya. Ketika saya Tanya lebih jauh, ternyata dia suka menonton sinetron. Hal itu terjadi karena pada saat beristirahat di malam hari, istri dan anaknya sedang menonton sinetron tersebut, maka dia pun menemani mereka. Saya jadi teringat ayah saya, dulu beliau juga suka seperti itu.
Hal positif dan negatif dari sinetron
Meskipun saya kurang suka sinetron, tapi saya tetap akan mencari hal positif dari sinetron. Sebagaimana cerita tentang ibu diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa sinetron bisa membuat beliau tersenyum. Jadi, kesimpulannya, sinetron bisa menghibur. Selain itu, perusahaan yang memasang iklan pada saat sinetron itu tayang, mungkin akan mendapat keuntungan jika penonton dirumah banyak yang menonton, tertarik, dan membeli produknya. Bagi saya, itu saja yang bisa ditemukan sebagai hal positif dari sinetron.
Sebaliknya, saya bisa menemukan lebih banyak hal negatif dari sinetron.
1. Karakter ekstrim
Saya menemukan istilah ini ketika melihat beberapa tokoh dalam sinetron dengan penokohan yang saya anggap berlebihan. Ketika menonton sinetron, saya selalu dapat dengan mudah menebak tokoh baik dan jahat. Dari penampilan, tokoh baik sering digambarkan sebagai orang yang sabar ketika teraniaya, tidak jarang, tokoh baik berbaju rombeng dengan muka polos (make up natural). Sebaliknya, tokoh jahat adalah tokoh yang ambisius, banyak bicara, judes, berpenampilan mewah (sebagai pelambang kekayaan) dan bentuk alis yang cenderung meninggi. Dari cara bicara, tokoh jahat seringkali lebih lantang dari tokoh baik, dengan ucapan-ucapan jahat dan penuh provokasi. Tokoh baik tidak jarang sebagai orang yang sabar, tidak banyak berkomentar, nrimo, dan pada akhirnya, ta daa….. mereka tetap menjadi pemenang atau menyelesaikan masalah karena takdir sutradara membuatnya seperti itu.

sinetron bertema remaja

Untuk sinetron remaja, sering pula saya temukan bahwa karakter jahat tidak segan untuk mengeluarkan kata-kata bernada sinis dan melakukan tindakan bully kepada tokoh baik. Ini tidak baik jika sampai ditiru remaja kita karena itu kasar dan bisa menyakiti orang lain. Hal yang satu ini benar-benar ATK (Asa Teu Kudu, istilah bahasa sunda untuk _____ sulit mendapat padanannya). Anak tetangga saya yang diceritakan di awal kemungkinan terpapar dampak negatif ini.
2. Melupakan waktu
Bagi anda yang suka menonton sinetron, ada baiknya jika anda membatasi waktu menonton anda. Karena, bisa jadi anda menghabiskan 2 hingga 4 jam untuk menonton sinetron dan melupakan apa yang seharusnya anda kerjakan. Seperti kasus ibu diatas, beliau lupa bahwa beliau sedang menjerang air karena keasyikan nonton sinetron. Hati-hati, ini bisa membahayakan.
3. Kecanduan
Sama halnya dengan poin sebelumnya. Orang yang sudah menyukai sinetron biasanya bisa kecanduan karena alur sinetron itu selalu menyisakan konflik di akhir episode. Hal ini membuat orang ingin menonton lagi dan lagi untuk mengetahui akhir dari cerita tersebut. Tapi sepengetahuan saya, alur sineton tidak akan sesederhana itu. Jika banyak orang yang suka, maka konflik akan terus bergelombang, naik, turun, naik lagi, turun lagi, dan begitu seterusnya hingga pemirsa bosan dan sudah bersiap-siap meninggalkan sinetron itu, dan akhirnya pihak yang berkepentingan, dengan berat hati, memberikan ending yang sudah lama ditunggu-tunggu penonton.
4. Gaya hidup mewah
beberapa Tidak jarang dalam sinetron yang saya lihat, para tokoh hidup di rumah mewah, dengan mobil yang tak kalah mewah. Anak-anak selalu diantar supir dan para ibu selalu bermake up lengkap meskipun ada dirumah. Saya pikir, sinetron seperti ini hanya memberikan impian kosong bagi penonton. Orang di desa akan berpikir begitulah hidup di kota, semua serba hebat, sedangkan orang di kota akan berusaha mendekati gaya hidup sepert itu, meski dengan berbagai cara. Ayolah, itu bukan kehidupan rata-rata orang Indonesia, kebanyakan adalah kehidupan yang biasa saja atau bahkan kekurangan. Janganlah terbuai, saudara-saudara…
5. Penggunaan atribut agama yang tidak mendidik
Saat ini marak sinetron yang menggunakan atribut agama sebagai bumbu ceritanya. Dua diantaranya adalah: tukang bubur naik haji dan kutunggu kau di pasar minggu (belum tayang). Dari sinetron pertama, ada sepasang suami istri yang diceritakan sudah pergi haji, tapi menjadi tokoh jahat dalam sinetron itu. Mereka suka memprovokasi dan memfitnah. Ini tidak sesuai dengan atribut haji yang mereka sandang dan terlebih lagi, ini jelas tidak sesuai dengan ajaran agama. Judul kedua, sejujurnya saya baru melihat trailernya di televisi. Saya melihat seorang gadis berkerudung, diajak jalan-jalan oleh seorang lelaki (yang saya rasa bukan suaminya) di malam hari, mereka bergandengan tangan, dan duduk berdekat-dekatan di bioskop. Atribut kerudung disini tidak menggambarkan seorang muslimah yang sebenarnya.
Saya harus akui, bahwa di kehidupan sehari-hari, hal ini sudah sering kita temukan, tapi, dengan diangkatnya hal ini di layar televisi, ini bisa menjadi pembiasaan dan pada akhirnya menjadi pembenaran. Mana esensi dari atribut-atribut tersebut?
Kesimpulannya, seseorang atau suatu keluarga harus memiliki filter atas sinetron yang mungkin sudah tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada baiknya pula jika waktu menonton televisi dibatasi, karena berdasarkan penelitian, tayangan tv bisa mempengaruhi psikologi manusia, terutama anak-anak (pemaparan penelitian ini akan saya tulis lain waktu). Terima kasih sudah meluangkan waktu anda untuk membaca tulisan ini.

Saya akan kembali ke alasan saya menggunakan netbook di hari minggu, yaitu mengerjakan tugas Pragmatics dari Prof. Dudih.
Deixis, oh deixis….. Huuufft… -_-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s